Mahasiswa STKIP Al Hikmah bukan
hanya di didik menjadi seorang guru yang profesional melainkan juga di didik
untuk menjadi seorang da’i. Hal ini berkenaan dengan minimnya para pendakwah
atau penceramah yang makin waktu makin sedikit. Ini merupakan sebuah terobosan
baru untuk menyelesaikan permasalahan yang ada pada saat ini. Contohnya ketika
saya mendapatkan tugas untuk KKN saya juga mendapatkan tugas untuk mengajar ngaji
di TPQ. Hal ini bertujuan untuk menguji kemampuan mahasiswa STKIP Al Hikmah di
lapangan seberapa siap yang telah di persiapkan untuk KKN di sekolah dan
praktik mengajar di TPQ.
Contohnya saya, seperti gambar
di atas bahwa saya telah mengajar di TPQ di dekat rumah namanya ialah TPQ Nurut
Taubah. TPQ Nurut Taubah inibaru didirikan oleh sekelompok warga yang
berantusias untuk mendorong diadakannya TPQ di daerah tersebut karena mengingat
bahwa TPQ masih sedikit sekali.
Walaupun masih baru namun
santri yang mengaji di TPQ tersebut lumayan banyak. Rata-rata santrinya adalah
siswa Sekolah Dasar dan beberapa santri yang berada di jenjang pendidikan
Sekolah Menengah Pertama. Kegiatan mengaji di TPQ tersebut berlangsung selama 6
hari dengan hari kamis malam jumat adalah hari libur bagi yang mengaji namun
ada acara ketika malam hari tepatnya ba’da shalat isya’ yaitu membaca shalawat.
Acara ini di dukung dengan
perlengkapan yang lengkap seperti pengeras suara dan hadrah yang dimiliki.
Itu saja pegenalan tentang TPQ
Nurut Taubah yang saya praktik mengajar ngaji sekarang beralih kepada hal
menarik yang saya alami ketika mengajar di TPQ tersebut. Hal unik yang pertama
yaitu ketika pengenalan awal, santri disana bertanya-tanya kenapa saya ada
disitu ketika waktu mengaji telah dimulai namun hal ini dijelaskan oleh guru
TPQnya tentang kedatangan saya. Beliau berkata “adik-adik sekalian, mulai hari
ini dan lima hari kedepan kalian akan di ajar oleh Ustadz Feri karena beliau
ada tugas dari kampusnya” mendengar hal tersebut para santri yang ada di situ
bersorak gembira entah itu sorak bahagia atau sorak menderita. Baru kali ini
saya di kenalkan dengan nama Mahasiswa tentu saja saya sangat senang sekali
mendengar penjelasan tersebut karena saya merasa di hargai. Inilah pertama kali
saya mengajar atas nama mahasiswa.
Pengalaman yang kedua yaitu
adalah para santri yang ada di disana hampir masih kecil semua sehingga saya
harus bersikap lemah lembut kepada mereka. Namun dalam kritik tersebut saya di
tuntut untuk bersikap lebih tegas terhadap santri karena melihat tingkah laku
yang kurang pantas seperti bercanda ketika ngaji, mengganggu santri perempuan
pada saat baca Al Qur an dan lain sebagainya. Sehingga saya harus berfikir
ulang bagaimana caranya agar santri tersebut dapat dian dan tidak mengganggu
santri lainnya. Salah satu cara yang saya gunakan untuk mengatasi hal tersebut
yaitu mencari kata dalam Al Qur an sehingga santri tersebut dapat fokus mencari
apa yang saya minta. Hal ini juga menbuat saya gembira karena melihat ekspresi
wajah dari santri yang bahagia dan senang ketika saya meminta untuk mencari
kata dalam Al Qur an tersebut. Itulah hal yang dapat saya berikan kepada santri
ketika saya praktik mengajar di TPQ Nurut Taubah.
Sekian...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar